Rabu, 23 November 2011

Keharusan Menata Jakarta Secara Menyeluruh

Mayjen (purn) H Nachrowi Ramli, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat DKI Jakarta, sudah diamanahkan untuk mencalonkan diri sebagai Guberunur Jakarta periode 2012-2017 oleh kader dan semua DPC Partai Demokrat se DKI Jakarta.  Bang Nara, begitu ia akrab disapa, dianggap sebagai sosok yang tepat untuk memimpin Jakarta. Selain tegas dan berani, pria asli Betawi itu juga  dikenal visioner.

Visi Bang Nara tentang Jakarta tersimpul dalam tegline ‘Menata Jakarta’. Tegline tersebut lahir dari refleksi terhadap berbagai persoalan Jakarta yang membuat Bang Nara berkesimpulan: Jakarta harus ditata ulang. 

“Tegline saya ‘Menata Jakarta’. Ini hasil refleksi terhadap semua persoalan Jakarta, yang pada kesimpulannya menurut saya, Jakarta harus ditata ulang. Penataan dilakukan di dalam semua bidang, baik politik, ekonomi, maupun budaya,” jelas Bang Nara saat diskusi bersama jajaran redaksi Harian Rakyat Merdeka, Kamis (13/10/2011) di Graha Pena lt 9 Kebayoran Lama Jakarta Selatan.

Dalam politik, imbuhnya, penataan diarahkan pada penumbuhan sikap dan tatanan yang mendukung berjalannya sistem demokrasi. Sikap itu, kata Bang Nara, adalah penghargaan terhadap kebebasan dan saling menghargai. Sementara tugas pemerintah memastikan terciptanya tata kelola pemerintahan yang aspiratif sesuai prosedur demokrasi.

“Demokarasi menuntut adanya sikap saling menghargai dan tidak saling ganggu. Pemerintah harus memastikan bahwa prinsip-prinsip itu berjalan di masyarakat. Pemerintah harus memberi pemahaman tentang hal ini kepada warganya agar mentalitas demokrasi terbentuk,” katanya.

Menurut Bang Nara, Demokrasi bisa berjalan kondusif bila mentalitas demokrasi terbentuk. Hal ini mengisyaratkan adanya penanaman yang sungguh-sungguh prinsip-prinsip demokrasi, baik dalam masyarakat maupun dalam pemerintahan itu sendiri.

“Pemerintah jangan hanya diam. Sebab kehidupan demokrasi ini tanpa prinsip-prinsip tadi berakibat pada disharmoni sosial, kegaduhan tiap hari, tawuran, demonstarasi ricuh, dan sebagainya,” jelasnya.

Sementara itu, penataan dalam bidang ekonomi, menurut Bang Nara, harus diarahkan pada upaya mengatasi kesenjangan dengan meningkatkan kesejahteraan. Sebagai insan koperasi, Bang Nara merasakan betul betapa kesenjangan dalam ekonomi ini begitu mencolok.


“Karena itu, ini perlu ditata ulang. Pemerataan harus diperjuangkan, terutama dengan meningkatkan kesejahteraan di kalangan bawah,” imbuhnya.

Hal ini akan ditopang oleh penataan dalam bidang culture. Pemerintah melakukan penataan dalam bidang sarana, pra sarana, dan relasi pasar, sedangkan dalam culture mesti ditumbuhkan etos kerja yang tinggi.  Dan yang tak kalah pentingnya dalam ranah ini adalah merawat keragaman budaya dan mengantisipasi ekses negatif budaya global. 

“Yang tak kalah pentingnya adalah sisi negatif perkembangan budaya mulai mengancam generasi muda kita. Generasi muda yang suka tawuran, terlena dengan budaya mall dan hiburan malam. Konsumtif dan miskin visi hidup. Ini perlu ditata. Pemerintah harus ambil andil di dalamnya mengatasi ancaman ini,” tegas Bang Nara.

Paralel dengan keragamaan budaya, kata Bang Nara, penataan dalam bidang agama diarahkan pada upaya merawat kerukunan antar umat beragama dan perlindungan terhadap minoritas. Ini sangat vital dalam menjaga keharmonisan sosial. 

“Semua agama harus hidup berdampingan dengan harmonis. Ini harus dirawat. Dan minoritas perlu dilindungi. Jangan sampai gara-gara gagal dalam merawat keragaman ini kita kembali ke masyarakat barbar,” tuturnya.

Bang Nara menegaskan, selain agenda penataan dalam bidang-bidang tersebut, dirinya juga sudah sejak lama menyiapkan berbagai konsep dan strategi untuk mengatasi masalah-masalah yang seolah sudah menjadi masalah harian, seperti macet dan banjir. Dan semua agenda penataan itu terintegrasi satu sama lain. Tujuan utamanya, kata mantan ketua Lemga Sandi Negara ini, adalah kesejahteraan lahir dan bathin. 

“Kesejahteraan lahir bisa diukur dari materi, sementara kesejahteraan bathin bisa diukur dari tingkat ketenangan dan kebahagiaan. Untuk tujuan itulah kenapa Jakarta harus ditata ulang secara menyeluruh,” pungkasnya. (nrc)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar